Danlanud Akui Larang Wartawan Liput TKA di Bandara Kendari

Danlanud Akui Larang Wartawan Liput TKA di Bandara Kendari

Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Haluoleo Kendari Kolonel Pnb Muzafar melarang wartawan meliput kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA) China karena takut awak media ditunggangi teroris.
Hal ini diungkapkan Muzafar saat ditemui di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara saat menghadiri hearing kedatangan TKA China, Senin (6/7). “Saya tidak mau ada risiko mas-mas wartawan ditunggangi teroris,” kata Musafar. Pelarangan terhadap wartawan ini, kata dia, berdasarkan laporan intelijen bahwa situasi saat kedatangan TKA China tidak kondusif. Ia juga mengaku, sebagai pemilik kekuasaan di Bandara Haluoleo, berhak menentukan siapa yang boleh masuk, termasuk awak media yang akan meliput.

Menurutnya, selain ada Bandara sebagai fasilitas publik, di sana ada gudang senjata termasuk bahan peledak.

“Kalau ada apa-apa sabotase siapa, siapa yang bertanggung jawab. Kalau cuman dicopot tidak apa-apa. Tapi kalau TNT diambil dicuri dan diledakin siapa yang bertanggung jawab. Saya tidak mau ambil risiko,” imbuhnya. Ia mengaku, wartawan sudah pernah diizinkan masuk liputan pada kedatangan TKA gelombang pertama sebanyak 156 orang. Namun, pada gelombang kedua kedatangan TKA sebanyak 105 orang, ia sudah tidak membolehkan awak media masuk liputan di Bandara.

“Saya punya staf beri masukan ke saya, untuk tidak diizinkan dulu (wartawan masuk liputan ke bandara),” katanya.

Para jurnalis mengusulkan agar minimal ada perwakilan wartawan yang meliput saat kedatangan TKA. Namun, ia menyebut jangan sampai ada kecemburuan sesama awak media. Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari Zainal A Ishaq menyayangkan pernyataan Danlanud yang menyebut wartawan bisa ditunggangi oleh teroris saat meliput kedatangan TKA China.

“Kita hargai kekhawatirannya. Tapi terlalu berlebihan jika menganggap wartawan ditunggangi teroris,” katanya.

Ia menyebut, jurnalis selalu memegang independensi dalam setiap liputan, termasuk kedatangan TKA China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *